Searching...
Senin, 03 Februari 2014

MERANTAU - BABAK II

MERANTAU - BABAK II
Oleh Hanaufa

Di negeri perantauan Subedjo Noto Ditoto, tengah bingung memikirkan nasib keluarga di rumah. Semua harta yang di kampung sudah mulai hais karena Bedjo tidak pernah mengirimkan apapun untuk menghidupi keluarganya. 
BEDJO : Musthofa iki piye nasibe keluargaku.
MUSTHOFA : Luweh apik sampeyan bali kang.
BEDJO : Gundulmu bali. Terus nasibe adinda kepiye.
MUSTHOFA : Yo akang kudu tanggung jawab.
BEDJO : Mana mungkin aku bawa adinda ke kampungku. Bisa – bisa istriku jantungan, mikir dong kamu, sudah lama di perantauan gak gaul juga.
MUSTHOFA : Dari apa kamu kang, di perantauan bisanya hanya menghianati istri akang yang di rumah, padahal yu Sri Suzuki Hondawati, sudah setia sepanjang masa, tapi apa balasan akang, akang telah menodai pernikahan akang dengan berselingkuh dengan adinda.
ADINDA : ( DATANG ) iki ono opo to kang kok podo tukaran, aku iki adoh – adoh soko negeri semberang, mbok di sambut dengan hangat dan ceria. Aku iki kesel bola bali kang.
BEDJO : Maaf adinda sayang, ini si musthofa ngajak rebut saja.
ADINDA : Kang ngapain musthofa di urusi. Ini gimana kepastiannya kang, saya sudah rela memutuskan pacar saya demi akang. Tolong di perjelas status saya kang.
MUSTHOFA : Mbak itu cewek, cantik, udah jelas to statusnya. KTP udah ada kan? Ribet amat.
ADINDA : Musthofa kamu jangan ikut campur urusan saya ya. Awas………
MUSTHOFA : Mau – maunya di jadikan istri kedua.
ADINDA : Apa kamu bilang? Istri kedua. Apa itu benar kang?
BEDJO : ( GAGAP. BINGUNG ) Eeeee nggaaakkkk sayang, musthofa ngawur.
ADINDA : Pokoknya saya tidak mau jadi istri kedua akang. Titik. Akang harus ceraikan istri akang yang di kampung. Titik ( PERGI )
MUSTHOFA : Rasain loh, pusing dah. Makanya jangan serakah jadi suami.

0 komentar:

 
Back to top!