Searching...
Senin, 19 Mei 2014

Akhlak Dan Tasawuf

BAB 1
PENDAHULUAN
بسم الله الرحمن الرحيم
1.1 Latar belakang 
Kita mengetahui bahwa dalam era globalisasi/modern ini sudah ada persamaan gender dan zaman yang serba canggih dengan tersedianya berbagai teknolgi yang sedemikian rupa begitu canggihnya. Menjadikan kita lalai serta lupa akan makna hidup dan tujuannya hidup di dunia ini yang penuh dengan kefanaan. Sehingga kehilangan akhlakul karimah dan hanya mengikuti hawa nafsu yang menjadikan kita terjerumus dalam akhlak-akhlak madzmumah. Semuanya saling menjatuhkan antar sesama, merusak alam yang telah disediakan oleh Allah SWT dan hanya mencari kepuasan nafsu yang tak ada batasnya.
 Oleh karena itu, kita perlu pemahaman dan pembelajaran untuk mengkaji akhlak tasawuf, agar dapat membersihkan hati yang telah ternodai oleh kotoran kotoran kehidupan dunia dan berbagai penyakit hati lainnya. Dengan cara berpegang kembali pada al qur’an hadits, dan meniru tingkah laku Rosululloh yang mana beliau di utus di dunia yang fana ini tak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Kemudian menjadikan kita mempunyai tingkah laku/akhlak yang terpuji sehingga dapat menjalin hubungan yang baik dengan lingkungan di sekitar dan ingat akan tujuannya hidup di dunia yang fana ini, dan akan selalu mendapatkan petunjuk dari Allah SWT. Selanjutnya, terbangunlah sebuah bangunan yang mempunyai pondasi akhlakul karimah dan bertiangkan tasowuf.
1.2. Rumusan Masalah
a. Apa pengertian ilmu akhlak?
b. Apa saja ruang lingkup ilmu akhlak?
c. Apa manfaat/tujuan mempelajari ilmu akhlak?
d. Pengertian Tasawuf
e. Asal-usul tasawuf
f. Tujuan tasawuf
g. Hubungan akhlak dan tasawuf
1.3. Tujuan Pembahasan
a. Untuk mengetahui pengertian ilmu akhlak.
b. Untuk mengetahui ruang lingkup ilmu akhlak.
c. Untuk mengetahui manfaat yang diperoleh dari mempelajari ilmu akhlak.
d. Untuk memahami pengertian tasawuf
e. Untuk mengetahui asal-usul taswuf
f. Untuk mengetahui tujuan tasawuf
1.4. Tujuan 
a. Menjelaskan definisi akhlak dan tasawuf
b. Dapat memahami dan menerapkan konsep hubungan antara akhlak dan tasawuf

BAB II
PEMBAHASAN
AKHLAK
2.1. Pengertian Akhlak 
Kata “Akhlak” berasal dari bahasa Arab, jamak dari khuluqun (خُلُقٌ)   yang menurut bahasa berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Kata tersebut mengandung segi-segi persesuaian dengan perkataan khalqun (جَلْقٌ) yang berarti kejadian, yang juga erat hubungannya dengan khaliq (جَالِقٌ) yang berarti sang pencipta, demikian pula dengan mkhluqun (مَجْلُوْقٌ) yng berarti yang diciptakan.
Kata akhlak adalah jamak dari kata khalqun atau khuluqun yang artinya sama dengan arti akhlak sebagaimana telah disebutkan di atas. Baik kata akhlak atau pun khuluk kedua-duanya dijumpai pemakaiannya baik dalam Al Qur’an maupun Al Hadits, sebagai berikut:
وَ اِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيْمٍ ( القلم : 4 )
Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (QS. Al Qalam: 4)
اَكْمَلُ اْلمُؤْمِنِيْنَ اِيْمَانًا وَ اَحْسَنُهُمْ خُلُقًا (رواه الترمذى)
Orang mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah orang yang sempurna budi pekertinya. (HR. Tirmidzi)
Ilmu akhlak adalah ilmu yang membahas tentang perbuatan-perbuatan manusia, kemudian menetapkannya apakah perbuatan tersebut tergolong perbuatan yang baik atau perbuatan yang buruk. Ilmu akhlak dapat pula disebut sebagai ilmu yang berisi pembahasan dalam upaya mengenal tingkah laku manusia, kemudian memberikan nilai atau hukum kepada perbuatan tersebut, yaitu apakah perbuatan tersebut tergolong baik atau buruk. Dalam pengertian yang hampir sama dengan kesimpulan di atas, Dr. M Abdullah Dirroz, mengemukakan definisi akhlak sebagai berikut:
“Akhlak adalah suatu kekuatan dalam kehendak yang mantap, kekuatan dan kehendak mana berkombinasi membawa kecenderungan pada pemilihan pihak yang benar (dalam hal akhlak yang baik) atau pihak yang jahat (dalam hal akhlak yang jahat).”
Menurut Istilah (terminologi), akhlak adalah:
1. Ibnu Maskawaih :
حَالً لِلنَّفْسِ دَاعِيَةٌ لهَاَ اِلَى اَفْعَالِهَا مِنْ غَيْرِ فِكْرٍ وَرُوِيَّةٍ
Artinya: keadaan gerak jiwa yang mendorong ke arah melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan pertimbangan.
2. Imam Ghazali: 
اَلْخُلُقُ عِبَارَةٌ عَنْ هَيْئَةٍ فِى النَّفْسِ رَاسِخَةٍ عَنْهَا تَصْدُرُ اْلَافْعَالُ بِسُهُوْلَةٍ وَيُسْرٍمِنْ غَيْرِ حَاجَةٍ اِلَى فِكْرٍ وَرُوِيَّةٍ
Artinya : sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan yang mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.
3. Ibrahim anis
حَالٌ لِلنَّفْسِ رَاسِخَةٌ تَصْدُرُ عَنْهَا الْاَفْعَالُ مِنْ خَيْرٍ اَوْ شَرٍّ مِنْ غَيْرِ حَاجَةٍ اِلٰى فِكْرٍ وَرُؤْيَةٍ
Artinya : Sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dengannya lahirlah macam-macam perbuatan, baik atau buruk, tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan.
4. Prof. Dr. Alwan khoiri, MA : 
Akhlak adalah maninfestasi iman, islam dan ihsan yangmerupakan refleksi sifat dan jiwa secara spontan yang terpola pada diri seseorang sehingga dapat melahirkan perilaku secara konsisten dan tidak tergantung pada pertimbangan interes tertentu.
Selanjutnya Ahmad amin secara singkat menyatakan : 
اخلق عادة الإرادة
Artinya : khuluq ialah membiasakan kehendak.
Yang dimaksud dengan ‘adah ialah perbuatan yang dilakukan berdasarkan kecenderungan hati yang selalu diulang ulang tanpa pemikiran dan perimbangan yang rumit, sedangkang yang melakukan dengan iradah ialah menangnya keinginan untuk melakukan sesuatu setelah mengalami kebimbangan untuk menetapkan pilihan terbaik diantara beberapa pilihan alternatif. Apabila iradah sering terjadi pada diri sesorang maka terjadi sebuah pola baku, sehingga dalam setiap dia mau melakukan sesuatu tanpa melakukan pemikiran-pemikiran ataupun pertimbangan-pertimbangan lagi, melainkan secara langsung akan melakukan tindakan yang sering dilakukan tersebut. Dan dalam definisi yang terakhir ini semakin menguatkan dari definisi-definisi yang ada di atas dengan penjelasan secara rinci tentang pembiasaan kehendak.
Keseluruhan definisi akhlak tersebut di atas tampak tidak ada yang bertentangan, melainkan memiliki satu kemiripan antara satu dengan lainnya. Definisi-definisi akhlak tersebut secara substansial tampak saling melengkapi, dan darinya kita dapat melihat lima ciri yang terdapat dalam perbuatan akhlak, yaitu:
1. Pebuatan akhlak adalah perbuatan yang telah tertanam kuat dalam jiwa seseorang, sehingga telah menjadi kepribadiannya.
2. Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan mudah dan tanpa pemikiran.
3. Bahwa perbuatan akhlak adalah perbuatan yang timbul dari dalam diri orang yang mengerjakannya, tanpa ada paksaan atau tekanan dari luar. 
4. Bahwa perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan sesungguhnya, bukan main-main atau karena bersandiwara.
5. Sejalan dengan ciri yang keempat, perbuatan akhlak (khususnya akhlak yang baik) adalah perbuatan yang dilakukan karena ikhlas semata-mata karena Allah, bukan karena ingin dipuji orang atau karena ingin mendapatkan suatu pujian.
Dalam perkembangan selanjutnya akhlak tumbuh menjadi suatu ilmu yang berdiri sendiri, yaitu ilmu yang memiliki ruang lingkup pokok bahasan, tujuan, rujukan , aliran dan para tokoh yang mengembangkannya. Kesemua aspek yang terkandung dalam akhlak ini kemudian membentuk satu kesatuan yang saling berhubungan dan membentuk suatu ilmu.
Di dalam Mu’jam al-Wasith disebutkan bahwa ilmu akhlak adalah:
اْلعِلْمُ مَوْضُوْعُهُ اَحْكَامٌ تَتَعَلَّقُ بِهِ اْلأَعْمَالُ الَّتِى تُوْصَفُ بِاْلحَسَنِ وَ اْلقُبْحِ
Ilmu yang objek pembahasannya adalah tentang nilai-nilai yang berkaitan dengan perbuatan manusia yang dapat disifatkan dengan  baik atau buruk.
Selain itu ada pula pendapat yang mengatakan bahwa ilmu akhlak adalah ilmu tentang tata krama. 
2.2. Ruang Lingkup Kajian Ilmu Ahklak 
Dalam pembahasan ini Ahmad Amin mengatakan sebagai berikut: Bahwa objek ilmu akhlak adalah membahas perbuatan manusia yang selanjutnya perbuatan tersebut ditentukan baik atau buruk.
Pengertian lain tentang ilmu akhlak dikemukakan oleh Kahar Masyhur yang menyebutkan, bahwa ruang lingkup akhlak meliputi bagaimana seseorang harus bersikap terhadap penciptanya, terhadap sesama manusia seperti dirinya sendiri, terhadap keluarganya, serta terhadap masyarakat. Di samping itu juga meliputi bagaimana seharusnya bersikap terhadap makhluk lain seperti malaikat, jin, iblis, hewan, tumbuh-tumbuhan.
Ahmad azhar basyir menyebutkan akhlak meliputi semua aspek kehidupan manusia sesuai dengan kedudukanya sebagai makhluk individu, makhluk sosial, makhluk penghuni, dan yang memperoleh bahan kehidupannya dari alam, serta sebagai makhluk ciptaan Allah SWT.
Dalam islam akhlak manusia tidak dibatasi oleh perilaku sosial, namun juga menyangkut seluruh ruang lingkup kehidupan manusia. Oleh karena itu konsep akhlak islam mengatur pola kehidupan manusia yang meliputi :
1) Hubungan antara manusia dengan tuhan
2) Hubungan manusia dengan sesama
3) Hubungan manusia dengan lingkungan
4) Akhlak terhadap diri sendiri
Namun perlu ditegaskan kembali yang dijadikan objek kajian Ilmu Akhlak di sini adalah perbuatan yang memiliki ciri-ciri sebagaimana disebutkan di atas, yaitu perbuatan yang dilakukan atas kehendak dan kemauan. Sebenarnya, mendarah daging dan telah dilakukan secara terus-menerus sehingga mentradisi dalam kehidupannya. Perbuatan atau tingkah laku yang tidak memiliki ciri-ciri tersebut tidak dapat disebut sebagai perbuatan yang dijadikan garapan Ilmu Akhlak, dan tidak pula termasuk ke dalam perbuatan akhlaki.
Dengan demikian perbuatan yang bersifat alami, dan perbuatan yang dilakukan dengan tidak senganja, atau khilaf tidak termasuk perbuatan akhlaki, karena dilakukan tidak atas dasar pilihan. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW yang berbunyi:
اِنَّ اللهَ تَعَالَى تَجَاوَرَّ لِى وَ عَنْ أُمَّتِى اْلخَطَأَ وَ النِّسْيَانَ وَ مَا اسْتُكْرِهُوْا عَلَيْهِ    ( رواه ابن المجة عن ابى الزار )
Bahwasanya Allah memaafkanku dan ummatku yang berbuat salah, lupa dan dipaksa. (HR. Ibnu Majah dari Abi Zar)
Dengan memperhatikan keterangan tersebut di atas kita dapat memahami bahwa yang dimaksud dengan Ilmu Akhlak adalah ilmu yang mengkaji suatu perbuatan yang dilakukan oleh manusia yang dalam keadaan sadar, kemauan sendiri, tidak terpaksa dan sungguh-sungguh, bukan perbuatan yang pura-pura. Perbuatan-perbuatan yang demikian selanjutnya diberi nilai baik atau buruk. Untuk menilai apakah perbuatan itu baik atau buruk diperlukan pula tolak ukur, yang baik atau buruk menurut siapa, dan apa ukurannya.
2.3. Manfaat/Tujuan Mempelajari Ilmu Akhlak
Tujuan mempelajari ilmu akhlak adalah mencapai kebahagiaan umat manusia dalam kehidupannya, baik di dunia maupun di akhirat. Jika seseorang dapat menjaga kualitas mu’ammalah ma’allah dan mu’ammalah ma’annas, insya allah akan memperoleh ridloNya. Orang yang memperoleh ridla Allah niscaya akan memperoleh kebahagiaan hidup duniawi maupun ukhrawi.
Selanjutnya Mustafa  Zahri mengatakan bahwa tujuan perbaikan akhlak itu, ialah membersihkan qolbu dari kotoran-kotoran hawa nafsu dan amarah sehingga hati menjadi suci bersih, bagaikan cermin yang dapat menerima Nur cahaya Tuhan. Dalam keterangan ini ilmu akhlak berfungsi sebagai panduan agar manusia mampu menilai dan menetukan suatu perbuatan yang selanjutnya ditetapkan baik dan buruknya
Dengan demikian karena ilmu akhlak menentukan kriteria baik dan buruk, maka seseorang yang memiliki pengetahuan tentang ilmu akhlak, ia akan terdorong untuk melakukannya dan mendapatkan manfaat dan keuntungan darinya, sebaliknya dengan dia mengetahui yang buruk ia akan meninggalkannya dan ia akan terhindar dari bahaya yang menyesatkan.

TASAWUF
2.4. Pengertian Tasawuf
2.4.1. Secara etimologi (bahasa)
Sebelum lebih jauh membahas tentang asal-usul tasawuf, sedikit kami berikan pengertian singkat sufi dan tasawuf. Ada beberapa pendapat tentang asal-usul kata tasawuf antara lain :  
a. Suf artinya bulu domba, karena biasanya orang sufi memakai bulu domba yang kasar sebagai lambang kesederhanaan dan kesucian
b. Shofi artinya suci, karena orang-orang sufi adalah orang-orang yang emnsucikan dirinya dari hal-hal yang bersifat keduniawian
c. Saf ini dinisbahkan kepada orang yang ketika solat selalu berada di saf yang paling depan
d. Adapula yang mengatakan istilah tasawuf dinisbahkan kepada orang-orang dari bani shufah
e. Shuffanah ialah sebangsa kayu yang mersik tumbuh di padang pasir tanah arab
2.4.2. Secara terminologi (istilah)
Tasawuf menurut beberapa tokoh sufi adalah seperti berikut: 
1. Ma’ruf al-Kurhi, tasawuf adalah bertegang apa yang hakiki dan menjauhi sifat tama’ terhadap apa yang ada di tangan manusia
2. Abu ya’qub al-Susi, orang sufi ialah orang yang tidak merasa sukar dengan hal-hal yang terjadi pada dirinya dan tidak mengikuti hawa nafsu.
3. Imam al-Junaid, tasawuf adalah engkau bersama Allah tanpa hubungan.
4. Al Qusairi mengatakan: “tasawuf adalah menahan diri dan meninggalkan hal-hal yang subhat”.
  2.5. Asal Usul Tasawuf
Meskipun secara tekstual tidak ditemukan ketentuan agar umat islam melaksanakan tasawuf akan tetapi kegiatan tasawuf telah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW sebelum diangkat menjadi Rasul. Dengan beliau telah berulang kali pergi ke gua hira’ dengan membawa sedikit perbekalan untuk mengasingkan diri dari masyarakat kota mekkah yang sedang hanyut dalam kehidupan kebendaan dan penyembahan berhala. Selain itu Beliau merenung dalam rangka mencari hakekat kebenaran yang disertai banyak melakukan banyak berpuasa dan beribadah, sehingga jiwanya menjadi suci.
Peri hidup Rasulullah dan sahabat-sahabatnya tidak didasarkan pada nilai-nilai material, nilai-nilai yang bersifat duniawi, tetapi bertumpu pada nilai-nilai ibadah, mencari keridhaan Allah SWT, akhlak mereka begitu tinggi, tunduk dan patuh kepada Allah, tawadlu’ dan sebagainya. Peri hidup Nabi dan para sahabat tersebut antara lain :
a. Hidup ubudiah (mengabdikan diri kepada Allah)
b. Hidup qanaah (menerima apa adanya)
c. Hidup zuhud (tidak mementingkan keduniaan)
d. Hidup taat (senantiasa menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya)
e. Hidup istiqomah (tetap beribadah)
f. Hidup mahabbah (sangat cinta kepada Allah dan RasulNya melebihi cinta kepada dirinya sendiri dan makhluk lainnya)

Sikap hidup seperti tersebut diatas kemudian diikuti oleh kaum sufi, kemudian menjadi sikap hidup mereka.
Tasawuf Islam bersumber dari al-Qur’an dan Hadis. Banyak ayat al-Qur’an dan Hadis Nabi SAW. berbicara tentang hubungan antara Allah dengan hamba-Nya manusia.
Secara umum  Islam mengatur kehidupan yang bersifat lahiriah atau jasadiah, dan kehidupan yang bersifat batiniah. Pada unsur kehidupan yang bersifat batiniah inilah kemudian lahir tasawuf. Unsur kehidupan tasawuf ini mendapat perhatian yang cukup besar dari sumber ajaran Islam, al-Qur’an dan al-Sunnah serta praktek kehidupan Nabi dan sahabatnya. Lebih jauh, al-Qur’an dan al-hadits berbicara tentang:
Hadits Rosulullah saw,terjemahnya:
Al-Ihsan, adalah hendaknya engkau menyembah kpd Allah, seakan-akan engkau melihat-Nya, maka apabila engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.
(HR. Muslim, Tirmidzi, Abi Daud dan Nasa’i)
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا مَن يَرْتَدَّ مِنكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللهُ  بِقَوْمٍ  يُحِبُّهُمْ  وَيُحِبُّونَهُ  أَذِلَّةٍ  عَلَى  الْمُؤْمِنِينَ  أَعِزَّةٍ  عَلَى الْكَافِرِينَ  يُجَاهِدُونَ فِي  سَبِيلِ اللهِ  وَلاَ  يَخَافُونَ  لَوْمَةَ  لآَئِمٍ ذَلِكَ  فَضْلُ  اللهِ  يُؤْتِيهِ  مَن  يَشَآءُ  وَاللهُ  وَاسِعٌ  عَلِيمٌ  (المائدة: 54)
;kemungkinan manusia dan Tuhan dapat saling mencintai (mahabbah) seperti dalam al-Maidah: 54
اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لا شَرْقِيَّةٍ وَلا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُورٌ عَلَى نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الأمْثَالَ لِلنَّاسِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
; Allah dapat memberikan cahaya kepada orang yang dikehendaki (an-Nur: 35)
وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ
;Begitu juga perintah Allah untuk ikhlas semata mengharap ridha-Nya dalam beribadah (al-Bayinah: 5)
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
; beribadah dengan penuh pengharapan terhadap ridha-Nya (raja’) (al-Kahfi: 110)
; dan banyak lagi konsep akhlak dan amal diajarkan dalam al-Qur’an kesemuanya adalah sumber tasawuf dalam Islam.
Sejalan dengan apa yang dibicarakan al-Qur’an, as-Sunnah pun banyak berbicara tentang kehidupan rohaniah. Teks hadis qudsi berikut dapat dipahami dengan pendekatan tasawuf:
كنت كنزا مخفيا فاحببت ان اعرف فخلقت الخلق فبى عرفونى
“Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi, maka Aku menjadikan makhluk agar mereka mengenal-Ku”.
 Hadis tersebut memberi petunjuk bahwa alam raya, termasuk manusia adalah merupakan cermin Tuhan, atau bayangan Tuhan. Tuhan ingin mengenalkan diri-Nya melalui penciptaan alam ini. Dengan demikian dalam alam raya ini terdapat potensi ketuhanan yang dapat didayagunakan untuk mengenal-Nya. Dan apa yang ada di alam raya ini pada hakikatnya adalah milik Tuhan dan akan kembali kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam al-Baqarah: 156: “Orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” Sesungguhnya Kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah Kami kembali.” dan al-Baqarah 45-46: “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.”
(HR. Muslim, Tirmidzi, Abi Daud dan Nasa’i)Juga hadis riwayat Imam Bukhari berikut yang menyatakan:
لا يزال العبد يتقرب الي بالنوافل حتى احبه فاذا احببته كنت سمعه الذى يسمع وبصره الذى يبصر به ولسانه الذى ينطق به ويده الذى يبطش بها ورجله الذى يمشوى بها فبى يسمع فبى يبصر وبى ينطق وبى يعقل وبى يبطش وبى يمشى.
“Senantiasa seorang hamba itu mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunat, sehingga Aku mencintainya.  Maka apabila Aku mencintainya maka jadilah Aku pendengarannya yang dia pakai untuk mendengar, penglihatannya yang dia pakai untuk melihat, lidahnya yang dia pakai untuk berbicara, tangannya yang dia pakai untuk mengepal dan kakinya yang dia pakai untuk berjalan; maka dengan-Ku lah dia mendengar, melihat, berbicara, berfikir, meninju dan berjalan.”
 Hadis tersebut memberi petunjuk  dapat bersatunya manusia dan Tuhan, yang selanjutnya dikenal dengan istilah al-Fana’ yaitu fana’nya makhluk kepada Tuhan yang saling mencintai.
Benih-benih tasawuf dipraktekkan langsung oleh Muhammad SAW. dalam kehidupan kesehariannya.  Perilaku hidup Nabi SAW sebelum diangkat menjadi Rasul, berhari-hari beliau berkhalawat di gua Hira’, terutama pada bulan Ramadhan. Di sana Nabi SAW banyak berzikir dan bertafakur mendekatkan diri kepada Allah SWT. Pengasingan diri Nabi SAW. di gua Hira’ ini merupakan acuan utama para sufi dalam berkhalawat. Puncak kedekatan Nabi SAW dengan Allah terjadi ketika beliau melakukan Isro’ wal mi’roj. Dikisahkan Nabi berdialog langsung dengan Allah ketika menerima perintah Shalat lima waktu.
Perikehidupan (sirah) Nabi SAW juga merupakan benih-benih tasawuf, yaitu pribadi Nabi yang sederhana, zuhud, dan tidak pernah terpesona oleh kemewahan dunia. Dalam salah satu do’anya nabi bermohon: “Wahai Allah, hidupkanlah aku dalam kemiskinan dan matikanlah aku selaku orang miskin.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Hakim). Pada suatu waktu Nabi SAW datang ke rumah istrinya, Aisyah binti Abu Bakar as-Shidiq, ternyata di rumahnya tidak ada makanan. Keadaan seperti ini diterimanya dengan sabar, lalu beliau menahan laparnya dengan berpuasa (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Nasai). Nabi juga sering mengganjal perutnya dengan batu sebagai penahan lapar.
Cara beribadah Nabi SAW juga merupakan cikal-bakal tasawuf. Nabi SAW adalah orang yang paling tekun beribadah. Dalam satu riwayat dari Aisyah RA disebutkan bahwa pada suatu malam Nabi SAW mengerjakan shalat malam; di dalam shalat lututnya bergetar karena panjang, banyak rakaat serta khusu’ dalam shalatnya. Tatkala ruku’ dan sujud terdengar suara tangisnya, namun beliau tetap terus melakukan shalat sampai suara azan Bilal bin Rabah terdengar di waktu subuh. Melihat Nabi SAW demikian tekun melakukan shalat, Aisyah bertanya: “Wahai junjungan, bukankah dosamu yang terdahulu dan akan datang telah diampuni Allah, kenapa engkau masih terlalu banyak melakukan shalat?” Nabi SAW menjawab: ‘Aku ingin menjadi hamba yang banyak bersyukur”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Akhlak Nabi SAW merupakan acuan akhlak yang tiada bandingannya. Akhlak Nabi bukan hanya dipuji oleh manusia termasuk musuh-musuhnya, tetapi juga oleh Allah SWT. Allah berfirman: “Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung”. (QS. 68:4). Dan ketika Aisyah ditanya tentang akhlak Nabi SAW, ia menjawab: “Akhlaknya adalah al-Qur’an”. (HR. Ahmad dan Muslim).
Ajaran rasul tentang bersikap dan berperilaku dalam kehidupan sehari-hari banyak diikuti oleh para sahabatnya, dilanjutkan oleh para tabi’in, tabiit tabi’in dan seluruh Muslim hingga saat ini . Mereka mengikuti firman Allah: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Al-Ahzab: 21).
Demikian sekilas asal-usul tasawuf dalam Islam. Jelas asal-usul tasawuf Islam bersumber dari al-Qur’an dan Hadis.

2.6. Tujuan Tasawuf
Adapun tujuan tasawuf adalah:
1.    Menurut Harun Nasution, tujuan  tasawuf  adalah  mendekatkan  diri sedekat  mungkin dengan  Tuhan sehingga ia dapat melihat-Nya dengan mata hati bahkan rohnya dapat bersatu dengan Roh Tuhan. 
2.    Menurut K. Permadi, tujuan tasawuf ialah fana untuk mencapai makrifatullah, yaitu leburnya diri pribadi pada kebaqaan Allah, dimana perasaan keinsanan lenyap diliputi rasa ketuhanan. 
Dengan demikian inti dari ajaran tasawuf adalah menempatkan Allah sebagai pusat segala aktivitas kehidupan dan menghadirkan-Nya dalam diri manusia sebagai usaha memperoleh keridaan-Nya
 2.7. Hubungan  Akhlak dengan Tasawuf 
Akhlak dan Tasawuf saling berkaitan. Akhlak dalam pelaksanaannya mengatur hubungan horizontal antara sesama manusia, sedangkan tasawuf mengatur jalinan komunikasi vertical antara manusia dengan Tuhannya. Akhlak menjadi dasar dari pelaksanaan tasawuf, sehingga dalam prakteknya tasawuf mementingkan akhlak. Hubungan akhlak dan tasawuf  tidak bisa terpisahkan karena kesucian hati akan membentuk akhlak yang baik pula .Pada intinya seseorang yang masuk ke dalam dunia tasawuf harus munundukan jasmani dan rohani dengan cara mendekatkan diri kepada Allah dan menjaga akhlak yang baik.

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
1. Kata Akhlak diartikan sebagai budi pekerti, peranggai, tingkah laku atau tabiat. Ahklak adalah hal yang melekat dalam jiwa, dan dari kebiasaan itu akan timbul perbuatan-perbuatan yang mudah tanpa dipikirkan oleh manusia.
2. Tasawuf itu bersumber dari ajaran Islam itu sendiri ialah al-Qur’an dan Sunah, mengingat yang dipraktekkan Nabi SAW dan para sahabat. Namun setelah tasawuf itu berkembang menjadi pemikiran.
3. Dengan mempelajari akhlak tasawuf dapat menjadikan kesucian hati dan akan membentuk akhlak yang baik pula. Pada intinya seseorang yang masuk kedalam dunia tasawuf  harus munundukan jasmani dan rohani dengan cara mendekatkan diri kepada Allah dan menjaga akhlak yang baik.

والله الموافق إلى أقوام الطريق
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

BAB IV

DAFTAR PUSTAKA
Abudin Nata, Dr.  MA. Akhlak Tasawuf. Jakarta: RadjaGrafindo Persada, 2002
al-Ghazali. Ihya’ Ulumu al-Din. Jilid III. Beirut: Dar al-Fikr, t.t.
AL-HABSYI, HUSIN. ___________. Kamusal-Kautsar. Surabaya: Assegaf.
AMIN, AHMAD. __________.Kitab al-Akhlaq. __________: Mesir-Daral-Kutubal-Mishriyah, cet. III.
Asmaran As, Drs. MA. Pengantar Studi Tasawuf. Jakarta: RadjaGrafindo Persada, 1996
MAHJUDIN, Drs. 1991. Kuliah Akhlak-Tasawuf. Jakarta: Kalam Mulia.
MUSTOFA, Drs. H. A. 1999. Akhlak-Tasawuf. Bandung: CV. Pustaka Setia.
NATA, Prof. Dr. H. ABUDDIN, M.A.  2006. Akhlak Tasawuf. Jakarta: PT. Taja Grafindo Persada.
Permadi, K.Drs. S.H. Pengantar Ilmu Tasawuf. Jakarta: Rineka Cipta, 2004
Rosihon Anwar, Drs.  M.Ag. Drs. Mukhtar Solihin, M.Ag. Ilmu Tasawuf. Bandung: Pustaka Setia, 2000.
Simuh. Tasawuf dan Perkembangannya Dalam Islam. Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1996

0 komentar:

 
Back to top!